Home » » Lanjutan Pengobatan Thibbun Nabawi

Lanjutan Pengobatan Thibbun Nabawi


3. Jenis-jenis Madu
a). Madu monoflora
Yaitu madu yang bersumber dari satu jenis tanaman/tumbuhan contohnya bunga pohon kelengkeng, kapuk randu, rambutan dan lain-lain.
b). Madu multiflora
Yaitu yang bersumber dari tumbuhan/tanaman yang heterogen misalnya di wilayah hutan, kebun-kebun aneka tanaman dan sebagainya.
c). Madu embun (honey dew)
Yaitu madu yang bersumber dari hasil sekresi suatu tanaman tertentu misalnya pohon karet usai gugur dan kemudian tumbuh/semi tunas daun baru. Pada ketiak tunas daun tersebut terdapat cairan rasa manis.
e). Madu sintetis
Yaitu madu hasil karya manusia meniru madu lebah, tapi tanpa bantuan lebah. Madu ini mungkin yang suka dikatakan madu palsu. Warna, aroma, rasa serta kemanisan madu tergantung dari mana lebah memperoleh sumber pakan. Begitu juga kekentalan serta kebersihannya tergantung teknik pemetikan/panenan berupa madu curah atau madu dalam sarangnya. (www.suaramerdeka.com)

3. Besi panas (kayy)
Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Saya melarang pengobatan dengan besi panas,” dan dalam hadits lain, “Saya tidak suka melakukan pengobatan dengan besi panas,” merupakan isyarat bahwa pengobatan besi panas hanya menjadi cara terakhir saja, yakni bila sudah terpaksa sekali.
Diriwayatkan dalam shahih Muslim, sebuah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a. bahwa Rasullah Saw. pernah mengirim seorang dokterkepada Ubay bin Ka’ab. Dokter tersebut menusuk salah satu penbuluh darah Ubay dan selanjutnya memanasi lukanya dengan kayy.
Saat Saad bin Muadz terpanah dalam suatu peperangan, Nabi melakukan hams terhadapnya. Kemudian lukanya membengkak, sehingga beliau mengulangi hams tersebut.” (HR Muslim) Arti kat hams dalam hadits tersebut adalah kayy.
Al-Khattabi berkata, ”Beliau melakukan terhadap Saad hanya dengan tujuan untuk menghentikan darah yang mengalir dari luka Saad. Karena beliau khawatir ia kehabisan darah sehingga meninggal dunia. Dalam kasus ini, kayy bisa digunakan. Demikian juga dalam kasus orang yang terpotong tangan atau kakinya. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 2005 : 53)
Diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu'bah r.a, dari Nabi saw. beliau bersabda, "Barangsiapa melakukan pengobatan dengan cara kayy atau meminta untuk diruqyah berarti ia tidak bertawakal," (Shahih, H.R at-Tirmidzi [2055] dan Ibnu Majah [3489]).
Rasulullah Saw. menjadikan kayy sebagai cara pengobatan yang terakhir hingga terpaksa menggunakan  kayy dan  tidak tergesa-gesa melakukan pengobatan dengan cara ini. pengobatan cara nabi yang telah di syariatkan lebih baik kita terapkan di kehidupan sehari-hari. dan berhati-hatilah dengan pengobatan yang akan merusak iman kita, semoga bermanfaat.....

Share this article :

2 komentar :

Outbound di Malang mengatakan...

Terimakasih informasi nya gan, sangat bermanfaat :)
ditunggu kunjungan baliknya yaah ,

outbound di malang mengatakan...

salam super sahabat,
tetap semangat dan sukses selalu ya
ditunggu kunjungan baliknya :)

Lintas me
 
Support : bursaobatherbal | herbal | google code | google | blogger | yahoo | bing
Copyright © 2011. Bursa obat herbal - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger